Presiden Palestina, Mahmoud Abbas berharap konferensi Timur Tengah yang akan
berlangsung di Prancis pada Januari mendatang akan mengakhiri pembangunan
pemukiman oleh Israel.
Pernyataan ini disampaikan Abbas beberapa hari setelah DK
PBB mengeluarkan resolusi yang mengutuk pembangunan pemukiman Yahudi di
Yerusalem dan Tepi Barat. Tak hanya itu, 14 anggota DK PBB juga sepakat bahwa
tindakan Israel tersebut melanggar hukum internasional.
Namun Israel memilih menentang putusan tersebut dan melanjutkan
pembangunan ribuan rumah.
"Resolusi membuktikan bahwa dunia menolak pembangunan
pemukiman karena itu ilegal, dilakukan di tanah kami yang diduduki termasuk di
Yerusalem timur," kata Presiden Abbas dalam pertemuan Partai Fatah seperti
dilansir The Guardian, Rabu (28/12/2016).
"Keputusan ini meletakkan dasar bagi negosiasi serius
di masa depan dan itu membuka jalan bagi konferensi perdamaian internasional
yang dijadwalkan akan diadakan di Paris pada bulan depan. Kami berharap,
konferensi ini akan memunculkan sebuah mekanisme dan tenggat untuk mengakhiri
pendudukan," tambahnya.
Prancis diharapkan akan menjadi tuan rumah pelaksanaan
konferensi Timur Tengah pada 15 Januari mendatang, beberapa hari sebelum
Presiden Barack Obama meninggalkan Gedung Putih. Puluhan negara dijadwalkan
akan hadir dalam agenda tersebut, mereka mendukung kerangka kerja internasional
untuk perdamaian Palestina-Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menentang
konferensi tersebut. Menurutnya pertemuan itu merusak proses negosiasi dan ia
sendiri menolak hadir.
Netanyahu telah berulang kali menyerukan agar ia dan Abbas
bertemu langsung tanpa syarat tertentu. Namun hal itu ditolak Abbas, ia hanya
ingin bertemu jika Israel mengakhiri pembangunan pemukiman.
Sementara itu, yang teranyar, surat kabar Israel Hayom melaporkan
bahwa komite zonasi Yerusalem telah bertemu untuk membahas pekerjaan konstruksi
terkait pembangunan pemukiman di sana.
"Kami tidak terpengaruh dengan resolusi PBB atau
entitas lainnya yang mencoba untuk mendikte apa yang kami lakukan di Yerusalem,"
kata Wakil Wali kota Yerusalem, Meir Turgeman.
"Saya harap pemerintah Israel dan pemerintah baru AS
akan mendukung kami sehingga kami bisa melanjutkan pembangunan yang terhenti
selama 8 tahun pada era pemerintahan Obama," imbuhnya.
PM Netanyahu marah bukan kepalang dengan resolusi DK PBB
itu. Ia pun telah menanggapinya lewat sejumlah langkah mulai dari menarik duta
besar Israel dari Senegal dan Selandia Baru, memberhentikan pendanaan ke lima
lembaga PBB dan Senegal, serta memanggil para duta besar sejumlah negara
termasuk AS.
Entah secara disengaja atau tidak, Netanyahu juga telah
"melecehkan" PM Inggris, Theresa May, dengan menolak bertemu di
sela-sela forum ekonomi dunia di Davis.
Ke-14 negara yang tergabung dalam DK PBB mendukung resolusi
tersebut, termasuk Inggris. Sementara sekutu Israel, AS, memilih bersikap
abstain.
Keputusan AS untuk abstain itulah yang memungkinkan resolusi
tersebut lolos. Karena ini pula, Israel tak dapat menutupi kemarahannya kepada
pemerintahan Obama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar