Selasa, 27 Desember 2016

Polri Koordinasi Kedubes di Suriah Telusuri Bantuan ke Aleppo

Jakarta - Polri akan berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Suriah terkait dengan adanya informasi bantuan nyasar dari Indonesian Humanitarian Relief (IHR) untuk warga Aleppo, Suriah.


Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul, hal ini sengaja dilakukan untuk mencari tahu kebenaran pengiriman bantuan tersebut berasal dari Indonesia.

"Info yang muncul, kita harus verifikasi. Apakah itu merupakan pengiriman dari Indonesia, kita akan bertanya dengan Kedubes di sana. Info ini harus diverifikasi dan dinyatakan valid dulu," kata Martinus di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/12/2016).

Sampai saat ini, Martinus menambahkan pihaknya belum memperoleh data yang pasti terkait pengiriman bantuan tersebut bagi kelompok ISIS. Oleh karena itu, proses verifikasi penting dilakukan sebelum penyelidikan atas dugaan tersebut dilakukan oleh Polri.

"Enggak ujug-ujug kita lakukan upaya kepolisian dengan data yang belum valid. Kita lakukan validasi terlebih dahulu, verifikasi info itu, kemudian baru penyelidikan," ucap Martinus.

Sebelumnya, bantuan logistik dari Indonesian Humanitarian Relief (IHR) untuk warga Aleppo, Suriah, sempat menghebohkan dunia maya. Sebab bantuan tersebut diduga tidak tersalurkan untuk warga sipil Aleppo. Bantuan itu justru untuk mendukung logistik kelompok teroris Jaysh Al-Islam, anak cabang ISIS.

Dalam video Euronews yang beredar tampak salah satu bantuan yang turut "disita" para pemberontak berasal dari Indonesia.

Pada kardus tertera tulisan 'Indonesian Humanitarian Relief' (IHR) lembaga nonpemerintah yang didirikan dan dikelola oleh aktivis kemanusiaan, paralegal, dan tokoh masyarakat.


Presiden Palestina: Resolusi DK PBB Dasar untuk Akhiri Pemukiman

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas berharap konferensi Timur Tengah yang akan berlangsung di Prancis pada Januari mendatang akan mengakhiri pembangunan pemukiman oleh Israel.


Pernyataan ini disampaikan Abbas beberapa hari setelah DK PBB mengeluarkan resolusi yang mengutuk pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem dan Tepi Barat. Tak hanya itu, 14 anggota DK PBB juga sepakat bahwa tindakan Israel tersebut melanggar hukum internasional.

Namun Israel memilih menentang putusan tersebut dan melanjutkan pembangunan ribuan rumah.

"Resolusi membuktikan bahwa dunia menolak pembangunan pemukiman karena itu ilegal, dilakukan di tanah kami yang diduduki termasuk di Yerusalem timur," kata Presiden Abbas dalam pertemuan Partai Fatah seperti dilansir The Guardian, Rabu (28/12/2016).

"Keputusan ini meletakkan dasar bagi negosiasi serius di masa depan dan itu membuka jalan bagi konferensi perdamaian internasional yang dijadwalkan akan diadakan di Paris pada bulan depan. Kami berharap, konferensi ini akan memunculkan sebuah mekanisme dan tenggat untuk mengakhiri pendudukan," tambahnya.

Prancis diharapkan akan menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi Timur Tengah pada 15 Januari mendatang, beberapa hari sebelum Presiden Barack Obama meninggalkan Gedung Putih. Puluhan negara dijadwalkan akan hadir dalam agenda tersebut, mereka mendukung kerangka kerja internasional untuk perdamaian Palestina-Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menentang konferensi tersebut. Menurutnya pertemuan itu merusak proses negosiasi dan ia sendiri menolak hadir.

Netanyahu telah berulang kali menyerukan agar ia dan Abbas bertemu langsung tanpa syarat tertentu. Namun hal itu ditolak Abbas, ia hanya ingin bertemu jika Israel mengakhiri pembangunan pemukiman.

Sementara itu, yang teranyar, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa komite zonasi Yerusalem telah bertemu untuk membahas pekerjaan konstruksi terkait pembangunan pemukiman di sana.

"Kami tidak terpengaruh dengan resolusi PBB atau entitas lainnya yang mencoba untuk mendikte apa yang kami lakukan di Yerusalem," kata Wakil Wali kota Yerusalem, Meir Turgeman.

"Saya harap pemerintah Israel dan pemerintah baru AS akan mendukung kami sehingga kami bisa melanjutkan pembangunan yang terhenti selama 8 tahun pada era pemerintahan Obama," imbuhnya.
PM Netanyahu marah bukan kepalang dengan resolusi DK PBB itu. Ia pun telah menanggapinya lewat sejumlah langkah mulai dari menarik duta besar Israel dari Senegal dan Selandia Baru, memberhentikan pendanaan ke lima lembaga PBB dan Senegal, serta memanggil para duta besar sejumlah negara termasuk AS.

Entah secara disengaja atau tidak, Netanyahu juga telah "melecehkan" PM Inggris, Theresa May, dengan menolak bertemu di sela-sela forum ekonomi dunia di Davis.

Ke-14 negara yang tergabung dalam DK PBB mendukung resolusi tersebut, termasuk Inggris. Sementara sekutu Israel, AS, memilih bersikap abstain.

Keputusan AS untuk abstain itulah yang memungkinkan resolusi tersebut lolos. Karena ini pula, Israel tak dapat menutupi kemarahannya kepada pemerintahan Obama.


Perempuan Muslim Gagal Jadi PM Rumania

Presiden Rumania, Klaus Iohannis menolak calon perdana menteri yang diajukan oleh Partai Demokrat Sosial (PSD), Sevil Shhaideh (52). Shhaideh merupakan seorang muslim dan dikenal dekat pemimpin PSD, Liviu Dragnea.


"Saya dengan hati-hati mempertimbangkan pro dan kontra hingga akhirnya memutuskan untuk tidak menunjuk Nyonya Sevil Shhaideh. Saya telah meminta PSD dan ALDE untuk mengajukan calon baru," kata Iohannis seperti dilansir Reuters, Rabu (28/12/2016).

Iohanni tidak secara rinci menjelaskan alasan di balik keputusannya. Sementara PSD tidak segera mengomentari penolakan ini.

PSD berhak mengajukan nama kandidat PM setelah partai itu berhasil memenangkan pemilu dengan perolehan suara mencapai lebih dari 45 persen. Lazimnya, ketua umum partai yang akan dicalonkan, namun Dragnea tersangkut kasus kecurangan pemilu dan tengah menjalani hukuman percobaan selama dua tahun sejak April lalu.

Menurut pengamat politik, Mircea Marian, penolakan Shhaideh itu tak lepas dari latar belakang pernikahannya dengan seorang pria asal Suriah.

"Mungkin alasan keamanan nasional yang membuatnya menolak, karena dia menikah dengan seorang warga Suriah. Mungkin pula hal itu dapat berisiko pada keamanan atau murni ada alasan politik," kata Marian.

"Namun yang jelas, PSD telah kehilangan banyak dengan pencalonannya yang sangat mengejutkan para pemilih mereka," imbuhnya.

Rise Project, sebuah LSM yang beranggotakan wartawan investigasi di Rumania belum lama ini mengungkapkan bahwa suami Shhaideh memosting sebuah pesan di media sosial Facebooknya yang menunjukkan dukungannya kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Selama masa kampanye, PSD menjanjikan kenaikan upah dan dana pensiun yang lebih tinggi. Dragnea sebenarnya sangat diharapkan dapat mengisi pos perdana menteri, namun sejak awal Presiden Iohannis telah menegaskan akan menolak calon yang memiliki catatan kriminal.

Penunjukkan Shhaideh sempat menghebohkan publik beberapa waktu lalu mengingat ia adalah seorang perempuan muslim yang dicalonkan untuk memimpin sebuah negara dengan 80 persen penduduknya menganut Kristen Ortodoks.


Jika saja Shhaideh terpilih ia akan mencatatkan sejarah bagi Rumania. Karena untuk pertama kalinya negara itu akan dipimpin oleh seorang perempuan dan seorang muslim.

Berhenti Sebar Foto Korban Perampokan Sadis di Pulomas

Jakarta - Berita perampokan sadis di Pulomas bisa bikin semua orang jadi paranoid (parno).Orang-orang yang tidak berhubungan langsung dengan para korban bisa saja mengalami kepanikan akibat "dibombardir" dengan berita perampokan Pulomasyang menewaskan enam penghuni rumah.


Tidak hanya pemberitaan di media, kepanikan dapat muncul akibat melihat foto-foto korban perampokan sadis di Pulomas yang tersebar di beberapa grup BBM dan aplikasi chat lainnya.

Pengirim foto-foto itu tidak berpikir dampak ke depan sebelum mengirim sebuah gambar yang tidak sepatutnya untuk dibagikan.

Dr Ari Fahrial Syam, Praktisi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), mengatakan, selain keluarga terdekat korban yang bakal mengalami stres karena kehilangan mendadak orang-orang yang dicintai menjadi stresor yang sangat berat, orang lain yang tidak memiliki hubungan apa-apa bisa juga mengalami hal serupa.

Sebab, orang-orang akan berpikir, rumah dengan pagar tinggi dan dilengkapi CCTV saja tidak luput dari kejaran pembunuh, apalagi rumah dengan pagar rendah atau tanpa pagar?

"Jadi memang segala sesuatu bisa saja terjadi. Bagaimana pun kita tetap selalu waspada, tidak boleh merasa cemas berlebihan, karena kejahatan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja," kata Ari dikutip dari keterangan pers yang diterima Health Liputan6.compada Rabu (28/12/2016)

Berdasarkan pengalaman klinisnya, pasien dengan penyakit lambung akan mengalami kekambuhan dan dada terasa sesak begitu mendengar ada tetangga yang meninggal dunia secara mendadak.

Bahkan, mendengar atau membaca tentang pembunuhan keji seperti perampokan sadis di Pulomas bisa menjadi pencetus pada pasien-pasien tersebut. Sekali pun tidak punya hubungan apa-apa dengan yang menjadi korban.

"Oleh karena itu, saya memprediksi, kasus pembunuhan di Pulomas apabila terus diberitakan, apalagi kondisi gambar korban terus di-share ke media sosial, bisa menjadi pencetus terjadinya kecemasan pada seseorang yang memang sebelumnya sudah mempunyai gangguan kecemasan tersebut," kata Ari.

Menurut Ari, kondisi kecemasan yang terjadi dapat mencetuskan berbagai gangguan kesehatan seperti tangan berkeringat, sakit kepala, jantung berdebar-debar, tengkuk terasa sakit atau napas terasa sesak.

"Jika memang sudah ada masalah di lambung, sakit lambung bisa saja kambuh," kata Ari.

Ari melanjutkan, jika seseorang punya hipertensi kecemasan, bisa membuat tekanan darahnya naik. Pada pasien kencing manis, bisa saja gula darahnya menjadi tidak terkontrol. Begitu pula pada pasien penyakit asma dan pasien dengan riwayat eksim.

"Sekali lagi, kecemasan dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan," kata Ari menekankan.

Peristiwa perampokan sadisPulomas yang menewaskan enam orang bisa menjadi stres tersendiri, baik untuk keluarga dekat maupun orang lain yang mendengar pemberitaan sadis tersebut.
 

Ada Paket Misterius, Polisi Evakuasi Turis di Trump Tower

Polisi New York (NYPD) langsung bergegas menyisir dan mengevakuasi para tamu yang tengah berada di lobi Trump Tower, gedung yang dimiliki dan ditinggali Presiden terpilih AS, Donald Trump.


Tindakan polisi bukan tanpa sebab, karena sebelumnya salah satu pekerja Trump Tower menemukan paket misterius.

Juru bicara NYPD mengatakan, tim anti-bom segera diturunkan ke lokasi. Setelah disisir dan evakuasi, mereka mengatakan Trump Tower dinyatakan aman. Demikian dikutip dari Reuters,Rabu (28/12/2016).

"Paket misterius ditemukan di Trump Tower telah ditelisik oleh pasukan anti-bom NYPD dan hasilnya paket tak bertuan itu dinyatakan aman," tulis juru bicara NYPD Peter Donald dalam Twitternya.

Sementara itu, Trump sendiri tengah berlibur di Mar-a-Lago resor miliknya di Florida. Ia beserta keluarganya tidak ada di gedung setinggi 58 lantai di Midtown Manhattan itu. Adapun lobi kala itu tengah dipenuhi para turis.

Ini bukan kali pertama Trump Tower 'diteror'. Apalagi saat Trump terlihat tanda-tanda bakal menang jadi presiden AS. Beberapa waktu lalu, pada 28 April 2016, sebuah surat tak bernama datang. Di dalamnya berisi bubuk putih yang mencurigakan.

Menurut pihak berwenang, salah seorang pekerja telah membuka amplop dan menemukan bubuk itu. Respons darurat segera diberlakukan di gedung Trump Tower yang terletak di 725 Fivth Ave.

Ada 6 orang di dalam ruangan saat amplop itu dibuka, namun hanya 3 pria yang terdampak langsung dengan bubuk itu. Mereka segera dievaluasi kesehatan dan dikarantia di dalam gedung tersebut.

Pada Maret lalu, Eric Trump, anak laki-laki kandidat capres AS tersebut juga menerima surat berisi bubuk putih yang disertai ancaman.

"Kalau bapakmu tidak keluar dari pencalonan, amplop kedua bukan lagi bubuk palsu," demikian ancaman itu.

Dua hari kemudian, surat ancaman juga dikirim ke saudara perempuan Trump, Maryanne Trump Barry. Ia adalah hakim di Pennylvania. Saat itu, FBI bersama Secret Service dan Kantor Marshal menginvestigasi surat tersebut

Surat berisi bubuk putih menjadi sorotan setelah tahun 2001 lalu di AS, di mana bubuk mengandungvirus anthrax itu dikirim ke kantor media dan pemerintah. Setidaknya 5 orang tewas karenanya.